Arsip

Bahagia

Pada dasarnya semua insan ingin mendapatkan kebahagiaan,,….segala upaya akan mulai cara yang biasa sampai kepada cara yang luar biasa,..setiap orang akan berbeda cara merasakan hidup bahagia,…ada orang kaya pusing melulu,ada orang miskin enjoy,ada juga orang kaya enjoy, dan orang miskin pusing. Anda pilih yang mana, tentu akan memilih jadi orang kaya yang enjoy. Namun kita ketahui bahwa manusia hanya bisa berusaha, sedangkan hasil akan ditentukan oleh yang diatas. Yang perlu digaris bawahi,,,,seberapa besarkah Usaha kita ??? sudahkah maksimum usaha kita ???
sudahkah usaha kita sesuai dengan POS aturan yang telah ada baik secara agama, maupun secara hukum negara,….????
Pada dasarnya bahwa yang merasakan kebahagiaan adalah hati kita,..yang merasakan,…bagaimana membiasakan agar hati ini menjadi tenang, merasa tentram dan bahagia,…

Bila kita ingin memperoleh kebahagiaan surga maka terlebih dahulu kita harus memiliki jiwa yang tenang dan atau menjadi hamba Allah yang sebenar-benarnya. Hal seperti itu akan dapat kita peroleh bila kita banyak belajar, banyak membaca dan berpikir, serta banyak berdo’a memohon tuntunan-Nya, sehingga kita pahami betul segala ajaran agama serta segala makna kehidupan kita ini.

Dalam proses belajar hendaknya kita tidak hanya menunggu nasehat-nasehat yang datang dari orang lain, dan tidak pula harus bersekolah secara resmi, atau harus menjadi sarjana ilmu agama terlebih dahulu, tetapi yang penting kita harus bersegera mencari tahu tentang segala ajaran dan tuntunan agama yang telah kita yakini melalui proses membaca dan berpikir.

Ilmu tidak hanya berada di lembaga sekolah atau di madrasah, tetapi ilmu juga dapat kita peroleh dari tempat lain. Kita miliki Al-Quran, dan kita miliki pula Al-Hadits, serta buku-buku tulisan para Ulama, dan kitapun memiliki akal dan pikiran kita yang sehat, maka yakinilah bahwa kita akan memperoleh pemahaman tentang agama yang lurus atas izin, keridhoan, dan tuntunan Allah Yang Maha Alim. Maka segera kita raih pemahaman itu tanpa harus menunggu datangnya ajakan, nasehat atau pengajaran dari orang lain. Maka berdo’alah memohon kepada Allah agar kita diberi kemampuan berpikir dan diberi ilmu yang bermanfaat. Amiin.

Marilah saudaraku, jadilah orang yang cerdas, orang yang sebenar-benarnya hidup, yang tetap memelihara derajad kemuliaannya, memelihara semua potensi akal-pikirannya,… jangan sampai kita terlambat untuk berbuat,… mengingat kita tidak tahu seberapa lama lagi waktu hidup kita di dunia ini.

”Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu”. ( QS.Al ’Ankabuut: 43 ).

ALLAH MAHA MELIHAT

Abu Bakar r.a. Ketika menjadi khalifah kerapkali menginspeksi keadaan rakyatnya dan wilayahnya sampai ke pelosok negeri hanya dengan berjalan kaki. Hingga pada suatu hari ia berjalan ke padang rumput dekat pegunungan. Udara sangat sejuk tapi tenggorokannya kering kehausan. Dilihatnya seorang penggembala sedang menggembalakan dombanya. Abu Bakar pun memanggilnya, bermaksud meminta air.
“Hai penggembala! Penggembala!”, teriaknya sambil melambaikan tangan.
“Ada apa, tuan? Ada perlu apa denganku?” jawab penggembala sambil mendatangi Abu Bakar r.a.
“Aku kehausan, mungkin engkau bisa memberiku air susu untukku. Aku ingin membeli susu dari domba gembalaanmu. Aku lelah berjalan seharian dan tenggorokanku kering. Mungkin air susu domba ini dapat menyegarkan badan dan menghilangkan dahagaku.” kata Abu Bakar r.a.
“Maaf, tuan. Aku hanya penggembala. Domba-domba ini bukan milikku. Pemiliknya ada di balik gunung itu. Aku tidak dapat bertransaksi dengan tuan. Namun, jika tuan kehausan dan ingin mendapatkan air susu domba ini, tuan boleh mengambilnya. Nanti aku akan memintakan izin pada pemiliknya atau kupotongkan upahku untukmu.”jawab penggembala.
Abu Bakar terkesan dengan kebaikan hati sang penggembala, ia ingin menguji iman sang penggembala.
“Hai penggembala, bagaimana jika kubeli saja domba yang gemuk ini. Satu ini saja. Ini uangnya. Ambillah.” desak Abu Bakar r.a.
“Maaf tuan, domba ini bukan milikku, aku hanya menggembalakannya. Jika tuan ingin membelinya, aku akan mengantar tuan ke pemiliknya.” kata penggembala sambil mengembalikan uangnya.
“Tapi kau kan dapat mewakilinya. Begini saja, kubeli domba ini dan ini uangnya. Katakan saja pada pemiliknya dombanya hilang atau dimakan serigala. Bukankah daerah ini banyak serigala? Lagipula dengan banyaknya domba pemiliknya tidak akan tahu telah kehilangan seekor. apa pemiliknya menghitung setiap hari? Ambillah, akan kubawa domba ini. Tak akan ada yang tahu.” desak Abu Bakar r.a. lagi.
“Tuan benar. Tak akan ada seorang pun yang tahu kecuali kita. Dan serigala memang banyak berkeliaran di daerah ini. Majikanku juga tidak pernah menghitung jumlah dombanya. Semuanya dipercayakan padaku.” jawab penggembala. “Tapi tuan, katakan padaku, dimanakah Allah? Yang Maha Melihat, Maha Mendengar, Yang Selalu Mengawasi dan Yang Tak Pernah Tidur? Dimanakah Allah, wahai tuan?”
Abu Bakar tersenyum, sangat terkesan dengan jawaban penggembala itu. Hatinya terharu, tak menyangka di tengah padang rumput, di balik gunung, ada seseorang yang begitu agung dan teeguh imannya. Gembira hatinya menyaksikan kualitas iman rakyatnya meski berada di pelosok negeri.
Sesungguhnya denyut hati yang tersirat atau bisikan di tengah kegelapan malam, semuanya selalu dalam pengawasanNya..
Subhanallah………………………by diding